Pindahan Yuk…

•25 February 2009 • Leave a Comment

Beberapa pengunjung blog ini mengeluhkan tidak adanya shoutmix. Sehingga mereka puyeng mau ninggalin pesan dimana. Mereka sudah terbiasa dengan iklim shoutmix yang kerap dipasang di blogspot. Sebelum membuat blog di wordpress ini saya sudah banyak mendengar kelebihan dan kekurangannya. Memang di wordpress yang free kita agak kurang leluasa mengutak-atik html dan style. Akhirnya saya buat juga di Blogspot yang sebenarnya sudah saya buat lebih dulu tapi belum pernah saya urus dengan serius.

Yah, mungkin blog yang ini nantinya akan lebih sering diisi civil engineering matters. Untuk posting yang lain di blogspot saja (secara temen-temen lebih nyaman pake blogspot sepertinya, mengimbangilah..)

Analisis Numerik 1

•20 February 2009 • 4 Comments

Teknik/Metode penyelesaian permasalahan yang diformulasikan secara matematis dengan cara operasi hitungan (aritmatik). Ciri: Adanya proses penghitungan yang berulang-ulang (iteratif). Memerlukan alat bantu komputer

1. Memerlukan pemodelan matematis dari situasi nyata.

2. Penyediaan input dan data yang cukup bagi pemodelan.

3. Pembuatan algoritma dan penulisan program

Persoalan yang ada di alam:

  • Lendutan yang terjadi pada pelat lantai. (Struktur)
  • Gaya tekan air pada dinding kolam.(hidroteknik)
  • Kepadatan lalu lintas di suatu titik jalan.(Transportasi)
  • Gaya tekan tanah pada didnding turap.(Geoteknik)

Continue reading ‘Analisis Numerik 1’

Malam yang Sedikit

•20 February 2009 • 5 Comments

embun belum selesai menetes pada daun
mentari masih lelap jauh di seberang
terlalu pagi untuk memulangkan kesadaran
rindu masih sangat dingin untuk disampaikan
maka kutumpuk ia bersama lelah yang tak sudah-sudah
kusandingkan bersama luka-luka yang payah

tapi hendak kapan lagi?
siang kemarin terlalu garang
bahkan terlalu berisik untuk mendengar siul berdendang
juga kemarin kemarinnya
dan kemarin kemarinkemarinnya
mungkin juga setelah ini dan setelahnya

waktu burung-burung terbang pulang
nyeri mulai berani mencium tulang
bertambah berani menjelang petang
hingga akhirnya semua sendi
berujar mereka ingin mati
begitulah hari kemarin
juga kemarin kemarinnya
dan kemarin kemarinkemarinnya
mungkin juga setelah ini dan setelahnya

maka tinggallah ini yang disisakan
malam yang sedikit
kurang separuh atau lebih sedikit
maka
kesadaran dipaksa pulang lebih dulu
rindu mulai dihangat-hangatkan
dingin dan nyeri yang tidur pulas di punggung
harus dikalahkan
seperti beradu, siapa yang jaga lebih dulu?

dapati malam-malamku jatuh
yakinkan diriku simpuh
pada sujud-sujudku yang rapuh
luruh penghambaan
genap kenistaan

Bulan Sabit Gundah

•20 February 2009 • 1 Comment

Buram
tak terlihat dalam kelam
Hanya hitam malam
Geram

Sandiwara Sore

•20 February 2009 • 1 Comment

Percik
Hujan menyudahi sore yang bersandiwara
Keinginjumpaan didendangkan kekakuan
pada tiap helai daun yang menari dingin
Melukis harap, cemas, takut

Rindu
Mencoba mengeja pelangi
yang sempat dilukis
sebelum surya menutup hari
dengan senyum yang beku

Rosa

•20 February 2009 • Leave a Comment

Bias Kemuning
Sayup rintih leluka yang bercermin pada rembulan
Rintik hari-hari
Menggiring kebanyakan rindu ke ujung kebencian pada malam yang berjatuhan
Kau terpaku pada sunyi
Tak terbahasakan oleh semua lingua
Tak pula isyarat
Meski hanya terbata

Engkau Dalam Kenangku

•20 February 2009 • Leave a Comment

saat sayap kupu mengatup/lelah menanti bunga tak jua mekar/hujan pupus rindu setengah musim/bintang sendiri/bulan berubah/hilang/kau bawa pergi bersama sejuta kenang/juga tiap sayat dan perih/tersisa resah dalam desah/yang dulunya pun ingin kau telan sendiri