Rembulan Saku

Di luar sepi. Landung masih mematung, terduduk di kursi tua yang ada di ruang tamu. Tiap kali usai prahara antara Landung dan Ayu isterinya, Landung selalu termenung di ruang tamu itu. Menatap ke luar melalui jendela yang terkadang ia buka lebar. Seperti saat ini.

Rembulan sudah terlalu jauh untuk dikejar. Meski mata Landung begitu lihai memburu. Ia hanya mendapati embun yang menetes satu-satu dari pucuk-pucuk kuning bunga alamanda di halaman depan.

Seorang gadis kecil mengamati Landung dengan takut-takut dari ruang tengah. Murung. Boneka beruang yang dipeluk gadis kecil itu seolah mengikuti raut wajah tuannya. Sejak bangun tidur tadi Ladung belum menggendongnya. Karena pagi ini tidak seperti pagi-pagi yang lain.

Landung menyudahi lamunannya. Ia berjalan ke ruang tengah, kemudian masuk ke kamar. Ia berlalu begitu saja di hadapan Retno. Retno mengikutinya dengan langkah berjingkat. Ragu, lebih tepatnya takut.
000

Pukul 10.10 malam. Dua jarum jam mengisyaratkan senyum yang ganjil. Retno dan boneka beruangnya bersembunyi di balik selimut di atas tempat tidur. Sesekali guruh bergemuruh, sesekali menggelegar. Tiap kali itu Retno memeluk bonekanya erat-erat. Sesungguhnya bukan guruh yang membuatnya risau. Namun dua suara sahut-menyahut dari balik dinding kamarnya yang dingin.

“Tapi bagaimana kita bisa makan, Retno bisa sekolah, kalau mas cuma di rumah saja!”

“Aku sedang berpikir. Kemarin-kemarin aku sudah coba, Yu. Tapi kamu tahu sendiri, Randy kontraktor tengik, sekelik bupati itu selalu menyusahkan langkahku. Setelah pembayaran proyek jalannya terganjal tanda tanganku dan Syaiful, ia gelap mata. Ia memberangus kami habis-habisan. Sepertinya aku sudah tak mungkin masuk ke dunia konstruksi lagi. Setidaknya di kabupaten ini, atau malah di provinsi ini. Aku harus berpikir mencari usaha lain. Aku butuh waktu dan aku butuh mikir,” Landung menatap dalam ke mata Ayu. Ayu membalas dengan tatapan yang sama.

“Tapi jangan cuma mikir tho, Mas. Sewa rumah in harus dibayar, tadi pagi mbak Lastri sudah ke sini. Sudah tiga bulan Retno nunggak bayaran sekolah. Hutang di warung Mbok Nah sudah banyak. Ia tidak mau meminjami lagi kalau kita belum bayar. Semuanya ndak bisa selesai dengan cuma dipikir, Mas.” Suara Ayu semakin serak. Landung hanya bergeming dan mengalihkan pandangan.

”Tidak usah jadi laki-laki. Jadi perempuan saja kalau…”

Mata Landung segera menatap kembali mata isterinya dan, ‘Plak…!’

Ayu memegangi pipi kirinya. Menatap sejenak ke dalam mata suaminya. Kemudian ia berlari ke kamar mandi, membuka kran lebar-lebar. Kemudian menangis sejadi-jadinya.

Untuk kesekian kali Retno memeluk bonekanya. Hanya kini karena sebab yang berbeda. Erat, kali ini terlalu erat.

Landung menatap benci tangan kanannya. Di matanya tangan itu seolah menghitam.
Ia menangis. Sebenarnya ia tidak ingin tapi ia tak bisa menahannya. Ibu Landung tak pernah mengajari anak lelakinya menangis. Tapi entah mengapa dua pekan ini ia sudah pandai.

Landung masih menatap tangannnya dengan kebencian yang makin menjadi. Ia memukulkan tangannya ke dinding beberapa kali. Tepat saat pukulan terakhir tangan Landung ke dinding, listrik padam. Di luar hujan. Kilat sesekali merobek malam yang gelap. Landung duduk bersandar pada dinding yang dirayapi dingin, menunduk dalam. Kedua kakinya ia peluk. Tangan yang sedari tadi ia tatap penuh benci, kini jadi benar-benar hitam. Landung semakin merasa dingin. Perih menjalari hatinya. Ia makin pandai menangis untuk ukuran laki-laki.

”Ibu…!” dari dalam kamar, teriakan Retno yang ketakutan karena listrik padam menghentikan tangis Ayu di kamar mandi.

”Iya, Nak,” Ayu bergegas.

”Retno kenapa, Sayang,” Ayu memeluk Retno yang sebenarnya sedari tadi sudah ketakutan. Gadis kecil itu kemudian menangis. Ayu jadi kesibukan membuatnya diam. Tangis Retno dan suara Ayu yang menenangkan gadis kecilnya lamat-lamat terdengar di telinga Landung. Perih makin menjalar di hatinya. Di luar sepi, hujan semakin deras.
000

Minggu pagi. Tupai-tupai meloncat dari pelepah kelapa satu ke yang lainnya. Basah di tanah perlahan mulai mengering disengat mentari. Pipit masih belum berhenti bernyanyi merayakan pagi. Di dalam kamar Landung termenung. Ia terduduk di tempat tidur, melipat kaki kanannya sedang yang kiri ia biarkan lurus. Landung bersandar pada dinding yang masih dingin karena hujan semalam. Ia bersanding sebuah tas cokelat berisi penuh pakaian. Sebuah document keeper yang resletingnya tidak tertutup sempurna nagkring di atas tas. Beberapa lembar ijazah, dan koleganya tersembul ujungnya dari dalam document keeper itu. Tangan kiri Landung menggenggam sikat gigi Formula hijau yang sudah tidak baru. Posenya santai namun wajah Landung begitu kaku.

Retno yang sedari tadi ngintili bapaknya nampak kebingungan. Ia ingin bertanya. Tetapi sisa-sisa ketakutan semalam membuatnya urung. Retno hanya terpaku di ambang pintu. Landung pun tak mengacuhkannya. Landung hanya menatap kosong.

Dengan langkah berjingkat, Retno memberanikan diri mendekati Landung. Retno memeluk boneka beruangnya demi menutupi sebagian wajah yang masih menyiratkan sisa-sisa ketakutan. Sambil tetap memeluk boneka beruangnya, Retno naik ke atas tempat tidur. Nyaris tanpa berisik, Retno duduk di sisi kiri Landung. Mengintip wajah bapaknya yang kaku dari balik boneka beruang. Landung masih bergeming. Perlahan Retno merapatkan tubuhnya ke tubuh Landung. Retno kembali mengintip dengan gaya yang sama. Landung tetap bergeming.

Di dapur, Ayu sudah selesai menanak nasi dan mamasak Sarden kaleng terakhir. Dapur itu hanya dipisahkan sebuah dinding dengan kamar tempat Retno menunggui bapaknya. Ayu menduduki kursi di salah satu sisi meja makan. Ia menatap hidangan yang baru saja ia selesaikan. Biasanya jika sudah begini, ia akan langsung memanggil Landung dan Retno untuk sarapan. Namun, pagi ini berbeda.

Pikiran Ayu mengawang. Menyayangkan segala kata yang terucap semalam. Mempertanyakan kedudukannya sebagai seorang isteri. Apakah benar ia hanya harus memasak dan mengurus rumah saja. Hanya menunggu suaminya membawa pulang segunung uang seperti tahun-tahun yang sudah lama ia lalui. Lalu ketika semuanya berubah menjadi sulit, ia berubah menjadi penuntut. Seolah lupa siapa yang sebenarnya dituntutnya. Bukankah selama ini ia mengenal suaminya sebagai laki-laki yang bertanggung jawab. Lelaki yang kehilangan terlalu banyak hal hanya karena membela kebenaran. Bukankah mestinya ia mendukung. Membantunya berpikir. Tak ada salahnya bekerja. Ayu merasa dirinya begitu lemah dan bodoh. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Seperti juga Landung, Ayu kini makin pandai menangis.

Landung masih bergeming. Retno tak pernah kehabisan akal. Kali ini Retno memberanikan diri menyentuh tangan kiri Landung yang menggenggam sikat gigi. Landung terkesiap. Nampaknya Retno berhasil menarik perhatiannya.
Landung menyelipkan sikat gigi yang sedari tadi digenggamnya ke katung praktis di sisi kanan tas. Penuh kasih Landung mengangkat Retno di sisinya ke pangkuan. Landung mendekap gadis kecilnya itu. Sesekali menciumi rambut panjangnya yang hitam lurus. Sisa-sisa ketakutan semalam sempurna sirna dari wajah Retno. Ia kini asyik memainkan telinga boneka beruangnya di pangkuan Landung.

”Nduk, bapak sudah pernah belum cerita padamu tentang Rembulan Saku?”

Retno menggeleng cepat.

”Jauh di sana, ada cerita tentang seorang pegawai kerajaan. Ia bekerja sebagai pembuat bangunan milik kerajaan. Mulai dari istana, benteng, sampai jalan-jalan. Pada suatu ketika seorang kasim yang jahat memfitnahnya. Sehingga ia akhirnya dipecat oleh raja. Semua harta yang dimilikinya disita oleh kerajaan. Ditambah lagi ia harus membayar denda. Pegawai kerajaan itu sedih sekali. Begitu juga anak dan isterinya. Mereka sekeluarga menjadi sulit sekali untuk hidup tentram dan bahagia. Anak perempuannya mungkin harus berhenti sekolah karena tidak punya uang. Isterinya kebingungan untuk mencari makan untuk keluarganya.

Akhirnya pegawai tadi mendengar kabar tentang rembulan saku. Rembulan itu sangat unik karena bisa dimasukkan ke dalam saku. Dan yang terpenting adalah, rembulan saku bisa membuat hidup keluarganya kembali bahagia. Rembulan itu tersimpan di puncak bukit cahaya yang jauh sekali. Hanya orang yang mempunyai ketulusan cinta yang bisa membawanya pulang.

Akhirnya dengan penuh tekad mantan pegawai kerajaan tadi mencari rembulan saku. Ia menempuh perjalanan yang sangat melelahkan. Setiap kali merasa kelelahan mantan pegawai keerajaan itu selalu teringat keluarganya, kemudian bersemangat lagi. Ia kemudian kembali meneruskan perjalanannya yang panjang dan melelahkan. Hingga akhirnya ia sampai di puncak bukit cahaya. Tetapi di sana ia tidak menemukan apapun yang mirip dengan rembulan saku yang diceritakan orang-orang. Ia akhirnya termenung di bawah pohon willow hingga larut malam.

Saat malam tiba ia menatap rembulan di langit. Ia teringat anak dan isterinya. Ia sedih karena sudah berjalan sangat jauh namun tidak mendapatkan apa-apa. Tiba-tiba rembulan yang dilangit berbicara.

”Hai mantan pegawai kerajaan, mengapa kau bersedih. Ketahuilah, apa yang kau cari sebenarnya telah kau temukan. Kau bisa membawanya pulang dengan sebuah langkah rahasia.”

Mantan pegawai kerajaan itu kemudian teringat bahwa hanya dengan ketulusan cinta ia bisa membawa pulang rembulan saku. Akhirnya ia memejamkan matanya dan mengingat anak dan isteri yang dikasihinya. Akhirnya rembulan yang ada di langit menurunkan sebuah cahaya kecil. Cahaya itu turun menghampiri mantan pegawai kerajaan. Ia kemudian menangkapnya. Rembulan di langit kemudian berkata lagi.

”Itulah rembulan saku. Sekarang pejamkan matamu lagi dan ingat kembali orang-orang yang kau kasihi.”

Mantan pegawai kerajaan itu kemudian menutup matanya dan mengingat anak dan isterinya. Saat membuka mata ia sangat terkejut. Ia sudah berada di depan rumahnya. Ia lihat rumahnya terang benderang. Di halaman rumah banyak sekali ditumbuhi sayur-sayuran. Di samping rumah ada kandang ternak yang isinya banyak sekali. Tak lama kemudian anak dan isterinya keluar rumah dan menyambutnya. Akhirnya mereka sekeluarga hidup bahagia selamanya.”

”Ye…!” Retno berbalik menatap Landung dengan sorak. Landung membalasnya dengan senyum yang sedikit berbeda. Namun, hal itu tak genap ditangkap Retno. Ia hanya senang mendengar cerita itu berakhir bahagia. Kemudian memainkan telinga boneka beruangnya lagi.

”Nduk, kalau bapak pergi mencari rembulan saku buat Retno dan Ibu boleh ndak?”
Retno berhenti memainkan telinga boneka beruangnya. Kemudian berbalik menatap Landung dengan isyarat tanya.

”Kenapa bapak harus pergi?”

”Ya, karena bapak sayang sama Retno dan Ibu.”

”Nanti Bapak tidur di mana? Makannya di mana? Terus, pulangnya kapan?”

”Retno ndak perlu takut. Orang yang pergi mencari rembulan saku seperti bapak bisa tidur di mana saja, tidak akan takut kelaparan, tidak akan takut kehujanan. Malah tidak bisa mati. Bapak pasti akan pulang, asal Retno mau menunggu bapak,” Landung membual terlalu jauh. Ia merasa agak bersalah. Tapi tak apalah, pikirnya. Hal yang terpenting adalah Retno bersedia melepasnya pergi tanpa derai tangis.

”Eemm, kalau begitu boleh deh. Retno janji akan selalu nunggu bapak pulang.” Retno kembali asyik dengan boneka beruangnya.

Landung segera memindahkan Retno dari pangkuannya, kemudian berujar dengan nada takut-takut ”Kalau begitu bapak berangkat sekarang ya, Nduk!?”

”Lho, kok sekarang?”

”Ya dong, nanti kalau ndak cepat-cepat bisa keduluan orang lain,” ujar Landung sambil membereskan barang-barangnya. Senyum ganjil tersungging di bibirnya. Retno hanya bisa mengamati setengah tak terima.

Landung selesai membereskan barang-barangnya. Retno gamang melihat bapaknya yang sudah benar-benar siap untuk pergi. Ayu yang sedari tadi diam-diam menguping kini sudah ada di ambang pintu. Landung menggendong Retno. Mereka bertiga

”Mas mau ke mana?”

“Percayalah, Yu. Aku masih laki-laki.”

”Maafkan aku, Mas. Aku tak bermaksud,” Ayu terisak.

”Sudahlah, tak apa. InsyaAllah aku mengerti. Nanti siang, Arman anak Haji Somad mengambil alat-alat gambarku. Pekan lalu ia banyak tanya-tanya alat gambar padaku. Kutawari saja alat-alat punyaku. Syukur dia mau. Minta uang delapan ratus ribu padanya. Pakai untuk makan dulu. Untuk sewa rumah dan yang lain bersabarlah dulu. Aku akan segera cari.”

Masih dengan isak Ayu mengangguk-angguk. Diraihnya Retno dari gendongan Landung. Gadis kecil itu ogah-ogahan. Ayu merayunya. Tangis Retno malah menjadi-jadi, mengiringi langkah Landung. Mungkin saat inilah saat ia paling pandai menangis. Mentari beranjak makin tinggi. Setitis sisa embun terakhir menitis dari pucuk kuning bunga alamanda di halaman depan rumah Landung.
000

Malam. Landung melangkah gontai di lorong yang sepi. Dari kejauhan ia menangkap sosok Syaiful rekannya sesama pengawas. Syaiful semakin dekat. Landung kini dapat melihat dengan jelas raut wajah Syaiful yang murka. Sepertinya ia mabuk berat. Sayiful semakin dekat. Meski agak lambat akhirnya ia menyadari keberadaan Landung dihadapannya.

”Semua ini gara-gara kamu, Ndung. Coba kalau waktu itu kita laporkan saja bahwa proyek jalan itu sudah selesai dengan baik, tentu semuanya tidak akan jadi seperti sekarang ini,” ujar Sayiful sambil menuding-nuding.

”Tapi itu sama saja kita membantu mereka berbuat curang, Ful. Uang yang kita dapat uang haram, Ful. Kita berdosa sama semua orang yang membayar jalan itu. Semua petani yang bayar pajak dengan mencucurkan keringat yang tidak sedikit. Orang-orang seperti bapakmu, bapakku. Juga Lik Karto yang sudah membantu membayar SPP kuliahmu. Hingga kamu bisa jadi pengawas seperti sekarang.”

”Apa artinya kalau aku tidak bisa kerja? Mertuaku memandangku sebelah mata. Isteriku minta cerai,” ujar Sayiful mencak-mencak. Ia makin gelap mata.

”Istighfar, Ful. Istighfar..,”

””Aagghhh… Ra sah keakehan ngomong!” secepat kilat Syaiful mencabut sebilah pisau yang mengkilap-kilap dari balik bajunya. Lama tak berselang pisau itu ia hujamkan di perut Landung. Sambil berseringai Syaiful memeluknya.

”Semua ini karena ide bodohmu dan aku mengikuti ceramah sok sucimu itu,” ujar Syaiful setengah berbisik. Kasar, Syaiful menarik pisau yang ia hujamkan di lambung sahabat kecilnya itu. Kemudian ia menghilang bersama angin, meninggalkan Landung yang meregang nyawa di pinggiran jalan yang dingin.
000

Matahari yang akan tenggelam melukis rona senja di ufuk barat. Seperti yang sudah ia janjikan, sore itu Retno menanti bapaknya pulang. Matahari tenggelam semakin dalam. Merah rona senja semakin berwarna tua. Sekelompok terakhir burung-burung bangau terbang melintas, kembali ke peraduan. Burung-burung itu seperti ingin berujar sesuatu pada Retno. Matahari tak bisa melukis rona senja yang berbeda dari sore ini. Setiap sore akan selalu sama.

~ by adhityaangga on 21 January 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: