Kalau Malam Hujan

Aku meneguk kopi yang diwadahi botol oleh Ema isteriku. Sore tadi ia membuatnya. Tentulah sekarang sudah dingin. Meski begitu kopi ini agak pekat, terlebih diregukan terakhir. Rasanya begitu kuat. Sekuat ingatanku akan senyuman Ema, saat melepasku pergi berdagang sore tadi. Sebenarnya aku malas untuk berangkat. Karena sepertinya malam ini akan hujan lebat.

Tetapi aku harus pergi berdagang. Rini anakku dua minggu lagi akan masuk sekolah dasar. Sudah lima hari ini ia merengek untuk dibelikan seragam merah putih. Sejak melihat Lia, anak tetangga kami mencoba seragam barunya, Rini seperti tak pernah berhenti memintaku untuk membelikannya yang sama. Aku dan Ema memang akan membelikannya, itu pasti. Tapi tidak dalam waktu dekat ini. Mungkin dua atau tiga hari sebelum masuk sekolah.
Pikiran kami itu segera kami buang jauh-jauh. Setelah kemarin malam kami terbangun karena igauan Rini tentang seragam sekolahnya. Malam itu Ema menatapku pias. Aku mengerti apa yang ia pikirkan. Aku menatapnya dan mengangguk, mengiyakan. Kami berdua memeluk Rini mencoba menenangkannya, agar igauannya terhenti. Sejak saat itu, pemikiran untuk menunda membelikan Rini seragam, menjadi pemikiran yang paling kami benci dan kami sesali.
00000

Pagi itu dingin. Entah mengapa sepi. Hanya dentingan sendok yang beradu dengan pinggiran cangkir dan aroma kopi yang dibuatkan Ema untukku.
“Malam ini ada sintren di Rempelas. Nikahan anaknya Pak Larjo.” ujar Ema sambil terus mengaduk kopi di cangkir.
“Agak jauh juga ya, Dik.” kataku datar. Kulihat Ema melirikku.
“Tapi ya ndak apa-apa.” kataku lagi.
Ema selesai mengaduk kopi yag dibuatnya. Ia mendekatiku yang sedang duduk di pinggir pintu. Aku segera menyambut kopi yang dibawakannya. Ema segera pergi ke sumur di belakang rumah kami. Ia mencuci pakaian. Tidak begitu banyak, hanya milik kami bertiga. Setelah itu benar-benar sepi.

00000

Langit malam ini menghitam. Meski sejak lepas sore tadi hujan sudah rintik, awan-awan hitam berkumpul seperti tak sudah-sudah. Sintren belum mulai. Hanya ada musik campur sari mengalun dari vcd player sang punya hajat. Entah sebenarnya menghibur siapa. Tak ada tamu di tenda biru itu. Hanya dua orang bujang tanggung. Wajah mereka yang agak gelap, membuat kemeja warna ungu yang mereka kenakan nampak tidak begitu bagus. Mungkin itu juga bukan baju mereka. Bisa jadi milik bapaknya. Tubuh keduanya nampak tidak begitu pas mengenakan kemeja itu. Sesekali mereka memunguti sampah-sampah kecil, yang sebenarnya mereka ada-adakan sendiri. Entah bungkus permen, lemper atau makanan lain yang mereka makan sendiri. Selain mereka, tak ada lagi. Lepas sore tadi, tak lagi kulihat orang yang begitu niat datang ke hajatan di tengah cuaca seperti ini.

Asal dan malas-malasan aku mengelap dagangan yang kugelar di pinggir jalan sejak sore tadi. Beberapa menjadi kotor, terkena cipratan lumpur dari ban motor yang melintas, atau kaki-kaki yang menginjak tanah yang becek. Awalnya banyak sekali dagangan yang aku gelar. Mulai dari mobil-mobilan, pistol-pistolan, jagoan-jagoanan. Pokoknya berbagai barang yang disebut dengan kata ulang berakhiran “-an”, yang berarti mainan, tiruan dan sebangsanya. Tetapi itu tadi sore, kini sebagian kututupi plastik. Soalnya jalanan becek sekali. Aku malas membersihkannya tiap kali menjadi kotor terkena lumpur.

Kalau kupikir-pikir, kaya juga aku ini. Punya mobil, motor, pesawat juga punya. Tapi ya cuma mainan. Kalau saja jadi beneran, aku pasti benar-benar kaya. Tapi ya tidak mungkinlah.

Ah… tapi setidaknya masih ada milikku yang bukan mainan. Kopiku, motor bututku, dan perdaganganku. Mereka bukan kopi-kopian, bukan motor-motoran, dan bukan dagang-dagangan. Tetapi, kopiku sekarang sudah habis. Mungkin kini layaklah disebut kopi-kopian. Perdaganganku? Sejak sore tadi aku memang belum berdagang dengan siapa-siapa. Sehingga tak sepeser pun aku dapatkan. Sedang Rini anakku, besok pagi pastilah menagih martabak yang biasa dijual saat ada tontonan seperti ini. Meskipun hanya akan mendapatinya sudah dingin dan tidak begitu enak lagi pagi esok. Jadi, mungkin sebentar lagi aku akan mulai main dagang-dagangan dengan pedagang lainnya, setidaknya dengan tukang martabak. Motorku? Aku tak bisa membayangkan jika itu pun mendadak jadi motor-motoran. Pasalnya itu modalku yang lumayan besar, yah… beberapa jutalah. Berkali-kali lipat dari kepunyaanku yang lain.

Langit malam belum berhenti menghitam. Hujan rintik ternyata hanya mengurangi massa airnya sedikit saja. Sedang awan-awan hitam semakin bersemangat untuk berkumpul. Vcd player berganti lagu. Oh… aku kenal intronya ini. Ketaman Asmoro, dulu aku sering merayu Ema dengan lagu ini. Entah kenapa aku sendiri begitu suka lagu ini. Tiap kali mendengarnya di mana pun, aku selalu ingin ikut nembang.

Saben wayah lingsir wengi…
Mripat iki ora biso turu…
Tansah kelingan sliramu…
Wong ayu kang dadi pepujanku…

Bingung rasane atiku…
Arep sambat nanging karo sopo…
Nyatane ora kuwowo…
Ngrasake atiku sansoyo nelongso…

Alah… sebenarnya lagu ini lagu gombal. Tak kalah gombal dengan Yen Ing Tawang Ono Lintang, atau lagu-lagu cinta lainnya. Tetapi tetap saja aku dan juga kebanyakan orang suka lagu cinta. Apalagi Ema isteriku. Terlebih lagi jika lagu itu mengalun dari mulutku. Mungkin yang terakhir tidak sepenuhnya benar. Soalnya suaraku tak bagus.

Aku berhenti nembang. Seorang lelaki dengan perut sedikit buncit, melangkah mendekatiku. Langkahnya hati-hati. Memilih-milih jalan agar tak menginjak yang benar-benar becek. Sepertinya ia takut celana dasarnya yang berwarna hitam dan kemeja putihnya menjadi kotor. Meski sudah terlihat agak tua binar matanya masih tajam. Ia menatapku dengan senyum yang ramah. Aku membalasnya. Dia Mas Eko, tetangga jauhku, Si tukang martabak.

“Rani nitip martabak seperti biasa toh!? Nih buat Rini!.”
“Iya, Mas!” sahutku sambil meraih bungkusan yang dibawa Mas Eko. Aku merogoh saku celanaku, mencoba mencari tiga lembar uang ribuan. Seingatku masih ada lima lembar di sana.
“Sudahlah, Min. Ndak usah, hujan gini daganganmu sepi pastinya.”
“Yah ndak bisa gitu, Mas. Mas Eko khan juga sepi.” aku masih merogoh saku celanaku.
“Wis wis wis. Kamu ini, wong aku mau kasih untuk Rani kok. Besok suruh Rani main ke rumah ya! Aku kangen sama dia.” Mas Eko berlalu.
“Iya…! Suwun, Mas!” sahutku setengah berteriak. Suaraku mengejar Mas Eko yang berjalan menjauh.

Tak kutemukan selembar pun uang ribuan di saku celanaku. Masya Allah… tadi kan sudah kugunakan untuk beli bensin. Untung Mas Eko tak mau dibayar. Jika tidak aku akan malu sekali. Untuk main dagang-dagangan pun tak begitu mungkin. Dini anak perempuan Mas Eko yang seumuran Rini, tidak ikut bapaknya jualan. Mungkin karena cuaca tidak begitu baik. Biasanya kalau Dini ikut, ia selalu minta dibelikan balon di tempatku. Sebagai gantinya ia akan membawakan sebungkus martabak.

“Martabak buat Lini, Lik Min.” ujarrnya dengan agak takut-takut, dan caranya menyebut ‘Rini’ yang belum benar. Setelah memberikan martabak padaku, ia akan segera kembali ke tempat bapaknya berjualan. Biasanya dengan setengah berlari. Selalu seperti itu. Tetapi, malam ini Dini tidak ikut.

Aku kembali membersihkan beberapa bungkus mainan yang masih kotor. Aku sedikit merubah posisi dudukku berusaha memperoleh posisi paling nyaman. Beberapa jenak aku seperti menikmati menghirup udara dingin malam itu yang memang harus diakui lumayan segar. Sampai…

“crat… crat…crat…crat…”

Dua buah sepeda motor melintas dengan laju agak cepat dan sedikit dekat dengan dagangan yang aku gelar. Aku hanya tersenyum kecut melihat daganganku hanya bisa bertahan bersih beberapa menit saja. Aku mendekati dagangan yang kugelar di sebelah depan dan segera menutupnya dengan plastik. Semuanya.

Aku kembali duduk di posisi sebelumnya, manyun. Kali ini aku sudah tak lagi mencoba untuk tersenyum. Hanya sesekali membenarkan posisi dudukku agar lebih nyaman. Meskipun aku sendiri juga tahu, nyaman tak akan menemuiku dengan berbuat seperti itu.

Hitamnya langit sudah terlalu menjadi-jadi. Awan-awan nampak berkumpul seolah sedang merapatkan serangan besar-besarannya. Hanya Lik Pon dan Yu Semi penjual Mie Ayam dan Bakso saja yang belum mulai berkemas. Tiga empat orang memang ada yang memesan bakso atau mie ayam mereka. Malam dingin seperti ini memang enak makan bakso atau mie ayam mereka. Aku sebenarnya sejak tadi sudah melirik-lirik. Tapi mau bayar pakai apa.

Pedagang yang lainnya sudah benar-benar rampung mengemas barang dagangan mereka masing-masing. Termasuk aku. Aku sudah rampung membuntal semua daganganku dalam tiga buntalan besar. Ogah-ogahan aku mengangkat buntalan itu satu persatu dan mengikatnya di sepeda motor.

Wajah kebanyakan orang yang sejak sore tadi ada di pinggiran jalan ini rata-rata tidak karuan. Seperti jalanan becek itu sendiri. Jalanan yang dilindas kendaraan puluhan pedagang yang nekat berjualan, meski malam hujan, karena alasan yang kurang lebih sama. Kini kebanyakan mereka sudah pulang satu-satu. Dari wajah mereka besar kemungkinan mereka pulang hanya membawa barang dagangan yang masih utuh. Aku salah satunya.

00000

Jalan hutan kawasan menjadi sangat jeblok kalau hujan begini. Sepanjang perjalanan aku merasa seperti sedang ikut grass track saja. Terkadang aku merasakan sedikit perasaan seru. Tetapi ban motorku yang memang sudah gundul membuatku beberapa kali hampir tergelincir. Semakin mendekati kampungku, jalanan semakin jeblok. Tanjakan dan turunan yang agak tinggi menjadi sangat licin dan sulit untuk dilewati jika mereka basah. Seperti sekarang ini.

Akhirnya aku sampai. Bukan sampai di rumah. Aku sampai di jalan yang paling sulit. Meski sudah berpuluh-puluh kali melaluinya. Hingga kini aku tetap merasa kesulitan untuk melewati jalanan yang satu ini. Bukan tanjakan tinggi. Bukan turunan curam. Ia hanya jalan lurus. Lurus sekali. Hanya saja, ia sempit tak lebih dari satu meter dan di sebelah kirinya ada jurang.

Aku menghentikan motorku. Mengambil napas dalam. Dengan kecepatan yang tidak terlalu lambat juga tidak cepat aku mulai melewati si jalan lurus ini. Beberapa jenak lajuku stabil. Asal tak ada gerakan yang tak perlu, atau batu yang mengganjal semua akan baik-baik saja. Batinku menenang-nenangkan hati yang sebenarnya tegang sekali.

Sekitar 30 meter lagi. Aku kegirangan, itu berarti aku sudah melewati 60 meter lebih. Aku merasakan angin merayap di kakiku. Mungkin karena hujan dan aku tidak makan sore tadi. Dingin semakin menjadi-jadi. Genggaman tanganku di stang motor seperti mulai bergetar. Mataku berkunang-kunang. Perutku melilit-lilit. Pandanganku semakin tak baik. Semua angin sepertinya seketika menyelusupi tubuhku. Aku lemas. Stang motor yang sedari tadi kupegang lurus tak kuasa terbelok ke sebelah kiri, ke arah jurang.

Dengan pandanganku yang payah kulihat sepeda motorku melorot perlahan menuju dasar. Setelah lampunya mati tak kulihat apa-apa. Angin yang menelusupi tubuhku semakin menjadi. Perutku tambah melilit. Aku semakin lemas. Aku mulai tak merasakan apa-apa. Hanya bayang-bayang tatapan pias Ema kemarin malam. Sedang igau Rini tentang seragam sekolahnya menggaung, memantul-mantul di dinding jurang. Semua kemudian semakin kabur lalu lenyap. Perlahan aku mulai tak ingat apa-apa. Aku hanya tahu malam ini hujan.

~ by adhityaangga on 20 February 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: