Puisi : Omong kosong, atau…?

Suatu hari ibu saya begitu kesal pada saya. Hasil kuliah saya semester itu tidak begitu baik. Diluar kebiasaan, sambil menasehati (baca : memarahi) saya, beliau iseng-iseng membuka kotak sms di ponsel saya. Saat menemui begitu banyak puisi di sana, beliau nampak semakin kesal. Beliau kemudian dengan nada kesal berujar, “Opo iki? Le..Le kerjananmu gur nggawe puisi wae sih. Puisi kui ora midayani” (Apa ini? Nak.. Nak.. kerjaanmu cuma buat puisi saja sih. Puisi itu useless)

Mendengar itu saya hanya nyengir kuda. Puisi-puisi yang ada di ponsel saya adalah yang terbaik yang pernah saya buat. Saat itu juga saya hapus semuanya, dan tak satu pun ada backup-nya di PC. Perkataan Ibu saya itu ternyata tidak membuat saya berhenti menulis puisi. Justeru untuk pertama kalinya saya menulis puisi untuk beliau.

Izinkan aku menulis puisi (1)

Reretak tanah kemarau kering
Rerimbun daun berayun
Riuh gemuruh guruh
Kilau melukis sore
Cahaya di sesela daun
Liuk sayap burung
Berkas membekas batas
Resah selusupi hati yang sendiri
Ranting kering
Tangis sela daunan
Kelupas kulit pohonan kaku
Kering rumput enggan mati
Berisik bisik mekar anggrek tiga warna
Riang sejuta rasa sejuta makna
Ujung jalan suatu sore

Izinkan aku menulis puisi (2)

biar kuisi waktu sendiri,
waktu kau pergi
waktu kau tak di sini
saat mereka mencaci
saat mereka mencari
saat mereka mengataiku banci
kalau mereka mundur
kalau mereka hancur
kalau mereka akhirnya melacur

Izinkan aku menulis puisi (3)

Sewaktu ibu tak mau jadi ibu
Karena bapak tak mau jadi bapak
Sehingga bayi tak sempat menjadi bayi

Izinkan aku menulis puisi (4)

Setiap kali kurasakan kau menahan perih
Saat terkadang ku tahu rindu
Ketika kusadar kau sungguh cinta

Izinkan aku menulis puisi (5)

Izinkan aku, Bunda.

Desember-Februari 2008

Sejauh yang saya tahu ibu saya sebenarnya orang yang punya penghargaan yang baik terhadap sastra. Nama saya pun, beliau ambil dari nama tokoh sebuah novel yang beliau baca. Mungkin karena waktu itu sedang marah beliau bersikap seperti itu. Akan tetapi memang ada sebagaian orang yang menganggap bahwa puisi tidak lebih dari sekedar omong kosong belaka. Puisi hanyalah hasil orang melamun, tidak punya kerjaan dan sampah perasaan. Puisi tidak ada gunanya.

Tidak sedikit orang yang memiliki pandangan terhadap puisi seperti di atas. Dengan berbagai kadar ‘pengabaian’ terhadap puisi tentunya. Pandangan tersebut menurut mungkin lahir karena pemikiran yang diliputi prasangka atau berdiri terlalu jauh dari objek yang hendak dinilai. Dengan demikian seseorang tidak akan pernah bisa berkenalan sebaik-baiknya dengan puisi. Seperti kita tidak mungkin bisa memahami dengan baik seseorang, bila hati kita telah dipenuhi prasangka pada awalnya. Untuk dapat mengenal seseorang dengan baik kita harus terlebih dahulu menyingkirkan semua persepsi. Entah itu baik atau buruk. Kemudian kita mulai mendekati dan menggaulinya dengan hati yang terbuka. Barulah kita bisa benar-benar menjumpai dara yang sembunyi di balik tirai itu.

Puisi (juga karya sastra lain) merupakan perwujudan kesadaran sastrawan atau penyair akan hidup dan kehidupan; alam, diri, juga tuhan. Puisi adalah seribu warna yang bercerita tentang perih; pengungkapan yang sangat jujur akan kekaguman; wajah-wajah kegembiraan, kengerian, kegelisahan, dan ketentraman; sejuta persepsi tentang hujan, semilir angin, badai, pelangi, dan matahari.

Kurang arif menilai penyair/penulis puisi hanya orang yang tidak punya kerjaan, banyak melamun dan kemudian dari itu ia mencipta puisi. Penilaian ini terlalu menganggap remeh proses kreatif dalam menulis puisi. Jika memang seremeh itu, mustahil lahir barisan kata-kata yang begitu kuat, baik konsep maupun diksinya. Beberapa penggalan puisi berikut mestinya akan membuat seseorang sulit untuk tetap berpikir demikian.

XII
Ingatkan dirinya mati
itulah asal berbuat bakti

Akhirat itu terlalu nyata
kepada hati yang tidak buta
(dari sajak “Gurindam Dua Belas” Raja Ali Haji)

Habis kikis
Segala cintaku hilang terbang
Pulang kembali aku pada-Mu
Seperti dahulu
(dari sajak “Padamu Jua” Amir Hamzah)

hidup hanya menunda kekalahan,
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah
(dari sajak “Derai-Derai Cemara” Chairil Anwar)

Ke manakah pergi
mencari matahari
ketika salju turun
pepohonan kehilangan daun

Kemanakah jalan
Mencari lindungan
Ketika tubuh kuyup
Dan pintu tertutup

Kemanakah pergi
Selain mencuci diri
(dari sajak “Salju” Wing Karjo)

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
(dari sajak “Aku Ingin” Sapardi Djoko Damono)

…. mata tak pernah sempurna purapura buta
dan telinga gagal purapura tak mendengar
(dari sajak “Sebuah Radio, Kumatikan”, fragmen ke-2, Dorothea Rosa Herliany)

Di peron mengucur keringat dan kecemasan
ribuan orang bergegas, kebekuan rindu membekas
di rel yang dingin. kutunda percintaan, separuh
hatiku masih kusimpan.

Kereta tak juga berangkat. Kuusung lukaluka
sendiri, berbaris di antara gerbonggerbong dan
teriakanteriakan

(dari sajak “Stasiun Kesekian” Dorothea Rosa Herliany)

Mengapa bulan di jendela makin lama
makin redup sinarnya?
Karena kehabisan minyak dan energi.
Mimpi semakin mahal,
hari esok semakin tak terbeli.

Dibawah jendela bocah itu sedang suntuk
belajar matematika. Ia menangis tanpa suara:
butiran bensin meleleh dari kelopak matanya.
Bapaknya belum dapat duit bayar sekolah.
Ibunya terbaring sakit di rumah.

Malu pada guru dan teman-temannya
coba ia serahkan tubuhnya ke tali gantungan.
Dadah Ayah, dadah Ibu….

Ibucinta terlonjak bangkit dari sakitnya.
Diraihnya tubuh kecil itu dan didekapnya.
Berilah kami rejeki pada hari ini
dan ampunilah kemiskinan kami…

(dari sajak “Harga Duit Turun Lagi“ Joko Pinurbo)
Ada yang melangkah dari mimpimu,
Berjingkat ke ruang tamu
Membuka dan menutup kembali pintu
Berjalan ringan ke luar pagar
ketika suara serangga mulai lindap diganti dementing
embun di daun-daun
….

(dari sajak “Elegi Dorolegi” Sitok Srengenge)

Puisi-puisi di atas adalah karya-karya para penyair Indonesia yang sudah tidak diragukan lagi kapabilitas dan popularitasnya. Mungkin hanya orang yang terlalu berani saja yang menyebut puisi mereka adalah hasil orang melamun dan tidak punya kerjaan. Lalu apakah seseorang penulis puisi yang ‘belum terkenal’, ‘pemula’ dapat dijuluki Si Pelamun yang tidak punya kerjaan? Tentu saja tidak simaklah beberapa puisi teman kita berikut.

Dengan desiran getir nadi
Oleh gemuruh suara hati
Karna ombak secerah nurani
Untuk dia, yang
Mengambil porsi tidurku
Mengalihkan isi otakku
Melalui pesan bertulisan
Ukiran kata dengan makna
Cinta
Terobosan hingga menggugah jantungku

(dari sajak “Askara Kasih I” Crafty Rini Putri)

pada jalan kayu
langkah menjadi sepi
pada dahan layu
tercium bau mati

pada sebuah perahu
ada dayung janji
pada laut biru
tersimpan misteri
(dari sajak “Bias Masa Depan” Wewin Indra)

Cinta ini telah lama sunyi
Hanya mimpi yang nyala
Berselimut sekian prasangka

Nyata cintaku sunyi
Bersandar pada kerapuhan dinding hati yang kehilangan sebait jiwanya
Dan puncuk-puncuk penghambaanku lahir tanpa makna

(dari sajak “Ku Belum Kembali” Abdul Zahid Syahidullah)

Rembulan itu, telah lam kit jadikan teman
Bersama, kita lukis cahayanya dalam diam
Kita jelmakan sebagai miniatur keajaiban;
Cermin yang pancarkan seribu terang

Rembulan itu, selalu kita nanti
Untuk kita prasastikan dalam kenangan
Kita susun cahayanya bersama pasir pantai ini
Agar samudera pun menyinari memori
….

(dari sajak “Nostalgia Bersama Rembulan” Hayatul Fikri)

Langit sore bercerita
tentang arakan awan
dan mentari murung
suram
diam angin lembut
seperti mendengar

Bertekuk muka
lantai kotak-kotak
sunyi

(dari sajak “CERITA LANGIT” -kepada Y.S Laela Awalia)

Lalu tak bijak pula jika menganggap puisi hanyalah sampah perasaan. Hanya keluh-keluh yang ditulis ketika patah hati dan benci; atau rasa ‘merah jambu’ yang meluap-luap dan di-puisi-kan. Puisi-puisi di atas lahir di berbagai kesempatan. Hal tersebut menunjukkan bahwa puisi merupakan wujud dari pengalaman indria dan nalar pengarang yang diungkapkan dengan sungguh-sungguh. Berikut beberapa sajak yang bicara tentak sajak pula.

Sajak
Sanusi Pane (1905-1968)

O, bukannya dalam kata yang rancak,
Kata yang pelik kebagusan sajak,
O, pujangga, buang segala kata,
yang ‘kan cuma mempermainkan mata,
Dan hanya dibaca selintas lalu,
Karena tak keluar sukma.

Seperti matahari mencintai bumi,
Memberi sinar selama-lamanya,
tidak meminta sesuatu kembali,
Harus cintamu senantiasa,

Madah Kelana, 1931

Dari puisi di atas kita bisa menangkap sikap yang diungkapkan oleh penyairnya. Bahwa puisi/sajak bukanlah permainan kata yang indah. Sajak adalah pancaran cinta yang tulus dan abadi terhadap kehidupan, laksana matahari yang menyinari bumi tanpa pamrih. Selanjutnya bacalah puisi berikut ini.

Sajak
Hartojo Andangdjaja (1930-1991)

Sajak ialah kenangan yang tercinta
mencari jejakmu, di dunia
Ia mengelana di tanah-tanah indah
Lewat bukit dan lembah
dan kdang tertegun tiba-tiba, membaca
Jejak kakimu di sana

Sementara di mukanya masih menunggu
yojana biru
kakilangit yang jauh
jarak-jarak yang harus ditempuh

Ia makin rindu
Dalam doa, dan bersimpuh;
Tuhanku ….
Sajak ialah kenangan yang tercinta
mencari jejakmu, di dunia

Sajak adalah kerinduan yang berujung pada pengembaraan. Pengembaraan yang begitu jauh demi menjumpai yang paling dicintai semua manusia. Sajak adalah pencarian dan pertemuan dengan tuhan. Kemudian bacalah lagi puisi berikut ini.

Sajak
Subagio Satrowardojo (1924-1995)

Apakah arti sajak ini
Kalau anak semalam batuk-batuk,
bau vicks dan kayuputih
melekat di kelambu,
Kalau isteri terus mengeluh
tentang kurang tidur, tentang
gajiku yang tekor
buat bayar dokter, bujang dan makan sehari,
Kalau terbayang pantaloon
sudah sebulan sobek tak terjahit.
Apakah arti sajak ini
Kalau saban malam aku lama terbangun:
Hidup ini makin mengikat dan mengurung.
Apakah arti sajak ini:
Piaraan anggerek tricolor di rumah atau
pelarian kecut ke hari akhir?
Ah, sajak ini,
Mengingatkan aku kepada langit dan mega,
Sajak ini mengingatkan kepada kisah dan keabadian.
Sajak ini melupakan aku kepada pisau dan tali
Sajak ini melupakan kepada bunuh diri.

Puisi di atas memberi gambaran kepada kita bahwa hidup ini begitu resah sekaligus indah, ada getir pada sesuatu yang terkadang membuat kita nyengir. Hidup adalah kumpulan dua hal yang berteman dengan cara yang begitu istimewa (kesedihan-kebahagiaan, suka-duka, hidup-mati, baik-buruk dan sebagainya). Puisi ini menyadarkan kita untuk tidak jadi pengecut yang menggunakan pisau untuk memutus urat nadi atau menggantung diri dengan tali. Puisi ini memberitahu kita untuk melanjutkan hidup.

Jadi, puisi bukanlah omong kosong belaka, sampah perasaan atau sebagainya. Bukan pula hasil kerja orang melamun, kurang kerjaan atau kurang waras. Kalau ada yang masih nekat berkata seperti itu, hendaknya ia menyadari bahwa sebenarnya kalau kita mau jujur, kita semua pastilah seorang penyair. Setidaknya dibeberapa saat yang paling unik dalam bagian hidup kita. Misalkan saat pertama kali jatuh cinta, saat begitu sedih, saat begitu rindu, kala semua sesak memenuhi kalbu. Cobalah ingat-ingat, pastilah kita pernah ‘melamun’, ‘kurang kerjaan’, menjadi ‘kurang waras’ dan menulis puisi.

~ by adhityaangga on 20 February 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: