Rintih Rerumputan III

Kucoba teriakkan pada rembulan
apa yang tak mereka katakan
meski hanya sayup
di tengah mendung yang buatnya redup
belum lagi sudah
masih gelisah
masih utuh
belum lagi luruh
rintihnya
bersanding seroja yang lupa bagaimana untuk berbunga
seperti kulupa melupakanmu
pagi ini dan nanti

~ by adhityaangga on 20 February 2009.

One Response to “Rintih Rerumputan III”

  1. Ketika malam bertambah malam/Aku bernyanyi dan menari/Sendiri//Tak ada yang tahu/Tak ada yang mengerti/Dan tak ada yang memahami//Namun aku terus saja bernyanyi dan menari/Bersama malam/Bersama sinar bulan//Merahku,hijauku,biruku/Menenggelamkanku/Dengan sempurna//Hingga senyumku/Bahagiaku/Tangisku/Jeritku/Pecah dalam satu//Tak ada yang tahu itu//Hanya aku dan malam/Yang mengetahui itu/Ketika malam bertambah malam//……… //Yang aku inginkan adalah sesuatu yang saaangat berharga/Aku tahu tuk dapatkan itu tidaklah mudah/Aku harus berjuang tidak hanya dengan tetesan air mata dan keringat yang asin/Tapi aku harus berjuang dengan tetesan air mata dan keringat : darah//Itupun kuyakin masih belum cukup tuk dapatkan inginku/Aku harus berjuang sampai darahku kurasakan habis/Hingga tulang-tulang dan persendianku terasa ngilu//Dan aku tak dapat merasakan apa-apa lagi//……..// Tersenyumlah Widi…./Hari ini milikmu/Melangkahlah kemana hatimu mau//

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: